Kamis, 10 Juli 2025

SYNTHONOVA MELODY



















Embark on an epic adventure with my new instrumental track, "Journey to the Middle-earth"! Let the soaring melodies and evocative sounds transport you to a world of fantasy. Listen now and tell me what visuals this music brings to your mind! 👇

Sabtu, 08 April 2023

Teman yang Baik Menurut Perspektif Kitab Ta'lim Muta'allim

Inshomniyah Media - Manusia adalah makhluk sosial, saling membutuhkan satu sama lain. Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap orang pasti memiliki seorang teman atau sahabat. Orang yang sering kita jadikan tempat curhat, berbagi kesedihan, bahagia, dimintai pendapat, dan mencari solusi.

Adakah kriteria teman yang baik dalam kitab Ta'limul Muta'allim itu? Kriteria teman sesuai yang disebutkan dengan bagian global, adalah teman yang baik. Sifat baik tersebut tentu relatif, mengingat baik bagi teman A belum tentu baik pula bagi teman B. Sehingga, perlu diperjelas secara spesifik perihal teman baik ini. Sayangnya, penjelasan secara spesifik ini belum ada di kitab Ta'limul Muta'allim. Anda harus mencarinya di kitab Ta'limul Muta'allim yang menjelaskan detail (Kitab Syarah).

Ada sebuah syair mengatakan;

عَنِ الْمَرْءِ لَاتَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِينِهِ ﴿﴾ فَإِنَّ الْقَرِينَ بِالْمُقَارِنِ يَقْتَدِی

“Janganlah kamu tanyakan mengenai jati diri seseorang, tetapi lihatlah siapa temannya. Karena seseorang akan mengikuti perilaku temannya.”

Syair tersebut membuktikan bahwa pengaruh sahabat sangatlah besar. Sehingga kita harus selektif dalam mencari seorang sahabat. Bukan berarti kita pilih-pilih, dalam artian jika orang tersebut tidak sekelas dengan ekonomi kita, maka kita enggan untuk menjadikannya sahabat.

Lalu, bagaimanakah kriteria sahabat atau teman yang harus kita pilih? Di dalam kitab Ta'limul Muta'allim dijelaskan, ada beberapa kriteria dalam memilih sahabat, antara lain: tekun, warak (berhati-hati), bertabiat lurus serta tanggap.

Dan hindarilah teman yang malas, pengangguran, pembual, suka membuat onar dan suka menfitnah. Sebuah syair pernah didendangkan, yang artinya:

“Bila temanmu orang jahat, maka hindarilah segera. Bila temanmu adalah orang yang baik, maka bersahabatlah dengannya, niscaya kamu akan mendapat petunjuk.”

“Janganlah kamu bersahabat dengan pemalas dalam segala perilakunya. Karena banyak orang yang rusak sebab mengikuti atau tertular perilaku buruk orang lain.”

“Begitu cepat pengaruh orang bodoh menjalar kepada orang yang pandai. Bagaikan api yang diletakkan pada abu, maka padamlah ia.”

Itulah sebabnya kita harus mecari sahabat yang bisa mengajak kita kepada kebaikan, jalan yang benar, dan lebih bertakwa kepada Allah.

Wallahu a'lamu bisshowaab...

Senin, 06 Maret 2023

Melek Politik atau Tergilas Politik?

Sebenarnya judul ini terlalu sadis untuk diucapkan, tetapi tidak ada kosa kata lain yang lebih tepat dalam menggambarkan hal ini. Dan ini adalah fakta di lapangan: melek politik atau tergilas. Sekarang, Rekan-Rekanita juga tahu sendiri, bagaimana gerakan partai-partai politik dalam memenangkan calon yang mereka usung. Semua perkumpulan massa yang ada di depan mata, mereka garap tanpa pandang bulu. Mereka mengumbar janji-janji yang sebenarnya, dibalik semua itu, yang berlaku adalah prinsip transaksional.

Kemudian, telah ditemukan bahwa ada seorang calon yang dengan sengaja mendekati beberapa Banom NU, tak terkecuali IPNU-IPPNU, di suatu daerah. Dan, dalam acara tersebut, digunakannya sebagai panggung kampanye yang jelas-jelas itu bukan sepantasnya dilakukan.

Yang kedua, ada beberapa pengurus IPNU-IPPNU di suatu daerah yang secara sadar ikut serta meramaikan dukung-mendukung caleg, cabub-cawabub dan sebagainya. Bahkan dengan bangga mengupload foto selfienya dengan paslon dan meng-ngeshare di medsos.

Rekan-Rekanita yang baik hati dan sholeh-sholehah, mari kita keluar dari kesempitan hati, kedangkalan berpikir, dan kecekak'an perilaku. Politik itu tidak seburuk yang kita kira, yang buruk dan membuat semakin buruk adalah pelakunya. Belajar politik tidak harus bergabung dengan Partai Politik dan ikut berperan aktif dalam usung-mengusung calon, namun itu bisa kita pelajari dengan diskusi bersama. Entah itu dengan sesama/internal IPNU-IPPNU, atau pun dengan pihak KPU dan Bawaslu, sebagai penyelenggara dan pengawas pemilu.

Jadi, masihkah kita tidak mau paham dan mengerti politik? Masihkan kita mau berdiam diri menjadi penonton setia bahkan menjadi boneka partai politik? Ataukah kita tetap merasa bangga dengan status Pelajar Yang Unyu-Unyu itu? Semua dikembalikan pada diri kita masing-masing. Semua orang punya jalan dan prinsip masing-masing.

“IPNU Back To Home.” »» Dari IPNU Untuk IPNU, Dari IPNU Untuk NU, Dari IPNU Untuk NKRI.”

Wallahu A'lamu Bisshowab...


Selasa, 27 November 2018

KIAI KAMPUNG, SOSOK YANG TERLUPAKAN

Jika ditanya siapa yang paling berjasa pada diri anda dalam bidang agama? Akan saya jawab "Kyai Kampung".

Mereka tidak pernah dipanggil kyai, ustadz, apalagi dipanggil ulama. Santri-santri hanya memanggil "Pak" atau "Kang" atau "Abah".

Sungguh sebutan yang sangat familiar dan akrab. Tapi jasanya mengenalkan saya huruf Aa Ba Taa, yang menuntun lidah kelu saya hingga mahir baca Al-Qur'an, mereka yang sabar membimbing wudhu dan shalat saya tanpa dibayar.

Mereka yang rela tidak bekerja dan hidup seadanya demi menanti anak-anak di surau. Tapi, sekarang mereka telah banyak ditinggalkan santri-santrinya.

Para santri lebih terpesona dan takjub dengan ceramah para ulama dan ustadz masa kini. Para ustadz yang walaupun tidak pernah bertemu, jauh-jauh didatangi, tapi kyai kampung yang di depan mata tidak pernah disapa.

Sangat disayangkan, bukan? Ayo, para santri, pulanglah. Kembalilah kepada kiaimu, raihlah ridhonya. Karena hanya mereka yang mampu mengantarkanmu kepada Syafaat Baginda Rasul Kanjeng Nabi Muhammad. Bukan suara radio ataupun gambar di televisi.