Kemudian, telah ditemukan bahwa ada seorang calon yang dengan sengaja mendekati beberapa Banom NU, tak terkecuali IPNU-IPPNU, di suatu daerah. Dan, dalam acara tersebut, digunakannya sebagai panggung kampanye yang jelas-jelas itu bukan sepantasnya dilakukan.
Yang kedua, ada beberapa pengurus IPNU-IPPNU di suatu daerah yang secara sadar ikut serta meramaikan dukung-mendukung caleg, cabub-cawabub dan sebagainya. Bahkan dengan bangga mengupload foto selfienya dengan paslon dan meng-ngeshare di medsos.
Rekan-Rekanita yang baik hati dan sholeh-sholehah, mari kita keluar dari kesempitan hati, kedangkalan berpikir, dan kecekak'an perilaku. Politik itu tidak seburuk yang kita kira, yang buruk dan membuat semakin buruk adalah pelakunya. Belajar politik tidak harus bergabung dengan Partai Politik dan ikut berperan aktif dalam usung-mengusung calon, namun itu bisa kita pelajari dengan diskusi bersama. Entah itu dengan sesama/internal IPNU-IPPNU, atau pun dengan pihak KPU dan Bawaslu, sebagai penyelenggara dan pengawas pemilu.
Jadi, masihkah kita tidak mau paham dan mengerti politik? Masihkan kita mau berdiam diri menjadi penonton setia bahkan menjadi boneka partai politik? Ataukah kita tetap merasa bangga dengan status Pelajar Yang Unyu-Unyu itu? Semua dikembalikan pada diri kita masing-masing. Semua orang punya jalan dan prinsip masing-masing.
“IPNU Back To Home.” »» “Dari IPNU Untuk IPNU, Dari IPNU Untuk NU, Dari IPNU Untuk NKRI.”
Wallahu A'lamu Bisshowab...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar