Selasa, 12 April 2016

MENGAJARI KELEDAI MEMBACA

keledai.jpg “Kemana kemana kemana/ Ku harus mencari kemana/ Kekasih tercinta, la la la la laa/ Tak pernah mengANUiku...”

Jauh terdengar suara orang menyanyi menirukan gaya mbak Ayu ting-ting, sambil berlenggak-lenggok mengikuti alunan suara jangkrik.

“Loh? Kok suara jangkrik, bang? Masa suara jangkrik bikin joget,”Protes seorang temanku ketika aku memulai cerita.

“Oh iya, sorry. Kemarin soalnya pas aku baca cerita ini dari blog tetangga, aku ndak nyimak sampai selesai. Ucap met malem, minta kunbal lalu kabur,”Jawabku sambil mengangkat alis.

Jauh terdengar suara orang menyanyi menirukan gaya mbak Ayu ting-ting, sambil berlenggak-lenggok mengikuti alunan suara musik dari radio usang yang tidak baru lagi.

“Nah ini yang benar, radio bukan jangkrik.”

Nampak Si Bahlul, tokoh dalam cerita perdanaku ini, yang semoga tetap bisa berlanjut sampai kapan pun, telah bersiap-siap nyangkul di sawah milik tetangga.

Jangan salah, Si Bahlul ini sebenarnya orang hebat. Dia bertingkah seolah orang gila karena tak mau diangkat menjadi abdi dalem kerajaan di sebuah negeri bernama Negeri Jancukers. Dia memilih untuk hidup layaknya rakyat biasa, karena dia punya pegangan hidup.

“Kedaulatan dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat! Makanya dia ndak mau jadi wakil rakyat, karena kekuasaan tertinggi adalah dari rakyat, ”sambung kawanku yang kebetulan nyimak di blog tetangga hingga rampung tanpa meninggalkan jejak apapun.

“Yupps, cerdas. Memang begitulah prinsip Si Bahlul. Selain itu dia juga orang yang berpegang teguh pada ajaran tasawuf, makanya dia ndak mau berurusan terlampau jauh masalah keduniaan,”tambahku dengan nada serius.

“Kalau kekuasaan tertinggi dari rakyat, berarti kalau ada pejabat yang semena-mena dengan rakyat, sama artinya babu ngidak-idak majikan dong? Jancuk tenan,”tambah Si Sudrun dengan nada emosi sambil misuh-misuh.

Suatu ketika, ada tiga orang prajurit yang diperintahkan Tuan Raja untuk menjemput Si Bahlul dan membawanya ke istana.

“Tok tok tok, dor dor dor.... wahai Bahlul, cepat keluar. Ini perintah dari Tuan Raja,” panggil prajurit dengan nada keras.

“Waalaikumussalam, bertamu itu mbok yang sopan. Ucap salam, ketok pintu pelan-pelan, ada apa?”jawab Si Bahlul sambil ceramah tetek bengek sampai kuping mereka panas.

“Panjenengan diminta untuk datang ke istana, kami ndak tahu untuk apa, beliau ndak menjelaskan,”jawab prajurit dengan nada sopan karena ndak mau Si Bahlul ceramah lagi.

Lalu pergilah Si Bahlul dikawal oleh prajurit istana. Anak dan istrinya tampak khawatir, namun Bahlul sudah berpesan agar ndak khawatir.

Sesampainya di istana ternyata Tuan Raja menghadiahi Si Bahlul seekor keledai. Dia menerimanya dengan senang hati.

Tetapi Tuan Raja berkata, “Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, kita lihat hasilnya.”

Si Bahlul berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Baginda Raja menunjuk ke sebuah buku besar. Mister Bahlul menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya.

“Loh...??? Kok ceritanya disingkat gitu, keledainya kapan latihannya?”

“Drun, Sudrun. Mosok iyo aku kudu nyeritakake sedetail itu sampai dua minggu lamanya? Wong artikel yang sekian singkat saja pada malas membaca, eh nyepam; kunjungan malam, kunbal gan, nice post, dll dll dll. Apalagi cerita panjang lebar 2 minggu lamanya?”jawabku menyanggah.

Si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu, si keledai menatap Si Bahlul.

“Demikianlah, keledaiku sudah bisa membaca,”kata Si Bahlul.

“Bagaimana caramu mengajari dia membaca?”Tuan Raja mulai menginterogasi.

Pak Bahlul berkisah,“Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halaman untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar.”

“Tapi, bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya?”tanya Baginda kurang puas.

Bahlul menjawab,“Memang demikianlah cara keledai membaca; hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, berarti kita setolol keledai, bukan?”

“Tuh, dengar, Drun. Kalau ente ndak paham mendingan diam aja, ndak usah nyepam. Kasihan mas penulis yang capek-capek cerita buat kita, sudah ngomong panjang lebar eh cuma komentar minta kunbal,”cerocos Pak Haji Jupri yang dari tadi menikmati kopinya sambil nyimak juga.

“Hehehe...soalnya lapak ane sepi, Ji. Kan biar rame gitu, visitornya biar nambah,”jawab Sudrun nyangkal.

“Ooo ente pamrih toh? Begini, yang namanya berbagi itu harus ikhlas. Dibaca atau ndak dibaca, dikit atau banyak pengunjung, kalau dasarnya hobi nge-blog ya kagak perduli sama gituan. Memang sih, kunjungan yang banyak juga bikin semangat, tapi caranya yang asyik dong. Heu heu heu,”ceramah Haji Jupri.

siang mulai terik, embun tak lagi membasahi dedaunan. Bocah-bocah SD mulai keluar dari ruang kelas karena bel istirahat telah bunyi. Aku pandangi seorang guru muda yang cantik dari kejauhan. Ya, tidak salah lagi, itu adalah wali kelas adikku. Guru magang dari salah satu perguruan tinggi ternama di kotaku.

Walau terus membakar hangus sampai mampus, mencengkeram raga hingga sempat tak berdaya. Namun gemuruh semangat tetap jaya menggelora.

“Kopinya, mbak. Satu lagi....!!!”

Tags: Original post, Republik Jancukers, Ashkhabul Qohwah, Thariqat Al Inshomniyah

7 komentar:

  1. http://gusrider.mwb-id.com/mengajari-keledai-membaca.xhtml

    BalasHapus
  2. BoengZuu yng ManDIERYRabu, April 13, 2016

    sori gan ane mau nanya. . . Di tengah tengah kalimat agan menulis kata ngidak-idak kalau boleh tau artinya apa. . ?? Dan bahasa apa. . ?? Apa agan salah nulis???

    BalasHapus
  3. Bagus ceritanya,
    ada campuran bahasa jawa juga
    haha "jancukers" katanya,,, ????

    Pantas tuh sebagai sindiran untuk yang suka nyepam,,,,

    sebenarnya yang suka nyepam itu ingin juga dibaca potingnannya,
    dia ingin dihargai tulisannya tapi tidak mau menghargai tulisan orang lain,,,
    kan aneh,,,,:D;)

    BalasHapus
  4. @BoengZuu yng ManDIERY,
    ndak salah nulis bro, ngidak-idak itu bahasa jawa, artinya menginjak2 :D

    BalasHapus
  5. @Zahrotul M,
    hehehe...iya, kan aku #jancukers :D
    Ya semoga mereka cepat sadar, biar gak gagal paham dan salah arah. Wkwkwkw :v

    BalasHapus
  6. Cerita yang mengandung banyak sindiran. Jadi ingat komen pertamaku adalah " nice info, cerita yang menarik ". Aku gtw klu itu ternyata spam :) Jika ada komentar spam di blogku, suka kubalas, "hayoo baca artikelnya ga ya" itu bukan ungkapan tak ikhlas tapi sekedar mengingatkan. :) Benar kekuasaan tertinggi ada pada rakyat, tapi kekuasaan itu akan berjalan baik jika ada komunikasi yang baik antar sesama rakyat, lha wong yg terjadi sekarang sesama rakyat gontok2an akibatnya kekuasaan itu diambil oleh segelincir orang yang kemaruk :D Tasawuf ya....tokoh Bahlul yang mempelajari tawasuf pasti sangat bijaksana, dan tokoh Sudrun tak asing bagiku, sering ku baca di buku ayahku :) Gebrakan langkah Bahlul dan Sudrun selanjutnya sangat kutunggu.. I like it

    ohya cssnya keren lho mas, coklat salah satu warna favoritku, warna alam :)

    BalasHapus
  7. @She Zhie,
    hehehee...oke deh mb Zhie, makasih loh rayuannya wkwk :v
    Insyaalloh gebrakannya Sudrun cs. Aku lanjut. Makasih kunbal sama follbacknya :v

    BalasHapus