Kita manusia Indonesia, manusia yang sudah merdeka, di mana diskriminasi gender seharusnya tak ada lagi. Saya rasa di jaman sekarang, di Indonesia, jarang sekali terdengar kasus diskriminasi gender. Di negara ini, wanita boleh-boleh saja jadi dokter, jadi ahli hukum, menteri, bahkan presiden (dan Megawati menjadi presiden pertama Indonesia). Bahkan ada kok yang jadi supir, kuli, atau tukang becak.
Well, saya tidak sedang membahas seberapa boleh wanita bisa bekerja di sini. Yang jelas negara ini tidak melarang wanita melakukan pekerjaan-pekerjaan yang saya sebutkan di atas. Masyarakat juga tampaknya nrima-nrima saja kok. Lalu, di mananya yang tidak setara? Mau sesetara apalagi? Dulu, di jaman Kartini hidup (dan saya pun tidak membahas mengenai kontroversi dan konspirasi tentang Kartini di sini), keadaannya memang terdapat diskriminasi gender. Wanita tidak boleh sekolah tinggi-tinggi, kerjaannya cuma dapur- sumur-kasur, dapur-sumur-kasur. Yang lain gak boleh. Ya jelaslah, yang begini ini yang mendzalimi wanita. Wanita akan menjadi bodoh jika diperlakukan seperti itu. Bagaimana bisa wanita bisa membesarkan anaknya dengan cerdas kalau sekolahnya saja cuma sampai SD? Bisa-bisa terlahirlah generasi bodoh dan terjajah. So, sangat benar jika wanita juga harus menjadi terdidik, harus jadi pintar. Wanita adalah tiang negara. Di jaman sekarang, berapa saja wanita Indonesia yang sudah menjadi doktor dan profesor? Banyak, Saudara-saudara! "...Wanita adalah tiang negara..."
Berikut salah satu isi surat Kartini tahun 1902: “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak- anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”
Anda lihat, betapa mulianya pekerjaan wanita itu? Pendidik manusia yang pertama-tama. Dalam opini saya, wanita dan pria memang setara. Tapi mereka tetaplah berbeda, baik fisik maupun psikologinya. Mereka memiliki kodrat dan fitrahnya masing-masing. Mereka memiliki peranannya sendiri yang tidak bisa digantikan. Peranan mereka saling melengkapi, tidak bisa mereka berjalan sendiri -sendiri, pria tanpa wanita, atau wanita tanpa pria. Mereka membutuhkan satu sama lain. Di hadapan Tuhan, semua manusia itu setara. Yang membedakan hanyalah ketakwaannya. Yang bertakwa, dialah yang mulia lagi berderajat tinggi tanpa peduli dia itu anak siapa, jabatannya apa. "...Peranan mereka saling melengkapi, tidak bisa mereka berjalan sendiri-sendiri, pria tanpa wanita, atau wanita tanpa pria. Mereka membutuhkan satu sama lain..."
Saat kita berbicara keadilan, maka "adil" itu tidak sama dengan kata "sama". Adil itu sesuai dengan apa yang telah diperbuatnya atau kewenangannya. Seorang pencuri ayam tidak bisa dihukum seperti koruptor yang mencuri milyaran rupiah uang rakyat. Dan kewenangan seorang manager juga tidak sama seperti kewenangannya karyawan biasa. Masing-masing memiliki porsinya. Jika semua disamaratakan, yang terjadi justru ketidakadilan. Akan tidak adil jika seorang direktur dibayar setara dengan buruh, kan?
Apakah hak dan kewajiban wanita dan pria sama? Maka dalam opini saya, saya menjawab, tidak sepenuhnya sama. Mungkin benar jika wanita punya hak untuk memperoleh pendidikan yang sama dengan pria. Mungkin benar jika wanita memiliki hak untuk diperlakukan sama di muka hukum negara ini. Tapi untuk sebagian kasus lain, hak dan kewajiban mereka tidak bisa disamakan. Mengapa hak wanita berbeda dengan pria? Karena memiliki kewajiban yang berbeda. Kewajiban yang berbeda melahirkan hak yang berbeda pula. Seperti pada paragraf sebelumnya, manager memilik kewajiban yang berbeda dengan karyawan biasa, sehingga melahirkan hak dan kewenangan seorang manager tidak bisa disamakan dengan karyawan biasa. "...Kewajiban yang berbeda melahirkan hak yang berbeda pula...."
Lalu dimana perbedaannya? Pria menjadi pemimpin keluarga, wanita menjadi pembimbing anak-anaknya. Di situ saja sudah berbeda kewajibannya. Yah, Anda sekalian tahulah perbedaan tugas suami dan istri. Rasanya tak perlu saya bahas di sini. Pada dasarnya pria itu pemimpin. Ya saya tau benar, di luar sana banyak sekali pria-pria pecundang yang tak bisa memimpin dengan becus, yang menelantarkan anak dan istrinya. Asal Anda tahu, menjadi pemimpin yang baik itu pilihan. Mereka yang seperti karena tidak mau menjadi pemimpin yang baik. Anyway, ini tidak merubah kodrat pria sebagai pemimpin.
Kita lihat saja pemimpin-pemimpin besar dunia. Mungkin benar terdapat yang wanita diantara mereka, tapi tetap lebih besar jumlah prianya kan? Sejarah sudah membuktikannya. Lalu apakah wanita itu lebih rendah daripada pria? Siapa bilang? Siapa bilang menjadi pembimbing dan pengajar anak-anak tidak semulia menjadi pemimpin rumah tangga? Siapa bilang mengurus anak tidak semulia mencari nafkah untuk menghidupi keluarga? Siapa bilang pemimpin itu selalu lebih mulia dari yang dipimpin? Siapa bilang? Lalu keadilan macam apa yang diinginkan? Keadilan memporeh pendidikan sudah disebutkan dalam UU Sisdiknas, keadilan di muka hukum juga sudah disebutkan dalam UUD 1945. Yang bagaimana? Apakah wanita lajang boleh tidak mengindahkan perintah ayahnya untuk tidak pulang larut malam? Apakah wanita juga ingin menjadi imam dalam shalat untuk suami dan anak-anaknya? Apakah wanita juga perlu mendapat hak waris yang sama dengan pria? Yang seperti itu? Entah kenapa para dewan yang terhormat disibukkan dengan hal macam ini. Satu hal lagi, pria memiliki tanggung jawab dunia dan akhirat kepada istrinya. Apakah wanita juga ingin memiliki tanggung jawab macam ini kepada suaminya? Saya yakin tidak. Seruput kopinya, jeng! Aaaahh....
Saya sudah mengatakan bahwa kondisi fisik dan psikologi wanita berbeda dengan pria, apa iya masih tetap mau disama-samakan? Mau disamakan seperti apa? Saya pun mengakui wanita itu mahluk Tuhan yang indah, penuh kelembutan dan kecantikan. Sudah sewajarnya pria yang melindungi wanita dan bukan sebaliknya.
Jadi sekali lagi, mau disamakan seperti apa? Apa wanita juga ingin muncul sebagai pelindung kaum pria? Apa mau wanita disuruh angkat-angkat barang-barang berat? Tidak, kan? Ataukah, pokoknya disamakan, giliran yang gak enak dikembalikan ke laki-laki? Apakah maunya pria dituntut melakukan tugas-tugas wanita di rumah tangga, tapi giliran wanita diminta melakukan tugas-tugas pria di rumah tangga kemudian menolak? Itu kan namanya cari enaknya doank. Masa' iya, wanita disuruh benerin genteng, nambal pipa bocor? Ya saya juga tau, terkadang suami dan istri perlu men-switch tugasnya dikarenakan suatu hal. Tapi bukan itu esensinya, dan tetap saja segala sesuatunya akan lebih baik jika suami mengerjakan tugas suami, istri mengerjakan tugas istri. Wanita adalah wanita, pria adalah pria. Tak tergantikan. "...Wanita adalah wanita, pria adalah pria. Tak tergantikan..."
Saya sendiri jadi bingung emansipasi itu yang seperti apa. Kebanyakan yang saya lihat di masyarakat, kalau ada hak-hak pria yang tampak menyenangkan, wanita ingin juga memilikinya.
Giliran kewajiban pria yang tampak tidak menyenangkan, wanita tidak mau menerimanya. Pas berebut angkot, "Eh, ladies first... Ladies first..." giliran angkat-angkat, "Yang cowok donk, gimana sih?"
Jadi bagaimana? Hanya persamaan hak, tanpa persamaan kewajiban? Lalu keadilannya dimana? Saya tanya, apakah wanita pantas diminta untuk ronda tengah malam? Tentu tidak. Kenapa? Karena wanita dan pria itu berbeda. Ingat, perbedaan kewajiban melahirkan perbedaan hak. Maka menjadi sangat tidak adil jika kewajibannya berbeda tapi haknya sama.
"...Saya tanya, apakah wanita pantas diminta untuk ronda tengah malam? Tentu tidak. Kenapa? Karena wanita dan pria itu berbeda..."
Jadi kesimpulannya apa? Wanita dan pria memang setara, tapi fungsi dalam masyarakat itu berbeda. Kewajibannya juga beda. Dan asal Anda tahu, pekerjaan pengajar generasi pertama-tama adalah pekerjaan mulia, dan itu dianugerahkan kepada kaum Hawa. Jika Anda seorang ibu, maka peran Anda sebagai pengajar dan pengasuh anak anak Anda tidak bisa tergantikan. Wanita memiliki posisi yang penting.
"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." [An-Nahl:97]
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka...[An-Nisaa':34]
sebelumnya saya mohon maaf komentar ini hanya opini pribadi jadi j
BalasHapusemansipasi wanita yang dimaksudkan : wanita mendapatkan hak untuk mendapatkan hak, di akui kecerdasannya, diberi kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu yang ia dapatkan.
agar tidak di rendahkan dan tidak dianggap rendah oleh lawan jenisnya.
jd bukan menuntut kesamaan hak keseluruhan dari lawan jenisnya. karena wanita memiliki keterbatasan
@Ukhty Nur Maya
BalasHapusYups...sudah dijelaskan dlm artikel tersebut, bahwa "...Kewajiban yang berbeda melahirkan hak yang berbeda pula...."
Namun yg sering terjadi dalam masyarakat tidak demikian, (meski tidak semua) mereka kaum hawa membelot atas nama emansipasi secara keseluruhan. Padahal dalam jamannya Bu Kartini emansipasi yang dimaksud sebatas soal kesetaraan pendidikan, bukan yang lain2. This is it...
Barusan main ke blog teman, artikelnya juga tentang emansipasi wanita :)
BalasHapusKeadilan seperti apa yang benar ? Keadilan adalah segala sesuatu yang berjalan sesuai koridornya atau jalurnya baik sesuai ajaran agama maupun sesuai tatanan hukum yang berlaku :)
emansipasi sekarang memang banyak disalah artikan. Banyak kaum hawa menggaungkan kata ini demi memenuhi hasratnya. Namun hal ini juga menjadi bumerang karena alasan emansipasi juga kaum hawa harus bekerja diluar batas kewajibannya. Yang paling membuatku kesal, banyak kaumku harus pergi jauh jadi tkw, sementara sang suami yang seharusnya paling bertanggungjwb mencari nafkah, enak2an gmw pusing. Lebih membuatku kesal uang sang istri digunakan suami untuk menikah lagi... Dasar PECUNDANG LOE !! ups.. Ko aku marah ya :D
sehebat-hebatnya atau sepintar-pintarnya perempuan hendaknya tak melalaikan kewajibannya, dan ini harus didukung oleh kaum adam. Hai para lelaki jadilah pemimpin yang dapat diandalkan agar kami kaum hawa tak harus menanggung beban yg tak semestinya. Tapi perempuan juga jgn malas belajar, semakin baik ilmu/pengetahuan seorang perempuan insyaAllah semakin baik pula generasi yang dilahirkannya.
Tugas utama istri itu mnjaga dan mndidik anak2. Aku sendiri jika jd istri dan ibu nanti lebih memilih berkarya dirumah daripada meninggalkan anak2ku dengan pembantu/orang lain.
@She Zhie,
BalasHapusPerempuan adalah pendidik yg pertama bagi anak2nya.
Emang banyak jg sih laki2 pecundang,
Memang antara suami dgn istri harus saling bantu membantu. Namun akan lebih baik kalau suami mengerjakan pekerjaan suami, istri mengerjakan pekerjaan istri. Itu kalau keadaan mendukung :D
menurut saya yang namaya wanita gk boleh ngapa ngapain harus di rumah aja. . . Gk boleh sekolah, apa lagi kalo kerja. . . Karena di indonesa tidak ada sekolah yang menyiapkan husus buat wanita. . . . Karena suara seorang wanita aurat. . Dan kalo bukan muhrim haram hukumnya mendengar suara wanita. . . kalo orang menyekolah anak sampai sma orang tua akan di sebut dayus. . . Caranya tidak ada lagi selain di pesantren. . . Tapi hati hati tidak semua pesantren . . . Yang boleh tuh pesantren salafi. . . Maaf komentar saya kebanyakan. . .
BalasHapus@BoengZuu yng ManDIERY
BalasHapusOh eaaa??? Coba carikan dalil untuk mendukung pernyataan sampeyan? Kok berat banget diterima ya? Coba nanti kalau kamu punya keturunan perempuan mau diapain, ceritain ke blog ya. Sebagai bentuk realisasi dari pendapatmu kalau perempuan gak boleh ngapa2in selain "sumur-dapur-kasur" (rumah) !!!!!
Gak dilaksanain dosa loh kamu....
keren sob artikelnya, sangat membantu :D
BalasHapus@Achyarul Umam,
BalasHapusMembantu apanya ¿¿¿¿¿ Apanya yg membantu??? :o
Emansipsi wanita menurut saya sekarang disalahgunakan ,contoh dosen muridnya di ajarin tapi anaknya enggak .
BalasHapus@zetsful
BalasHapusIya ya bang, guru TK masih mending yak? :D *guyon
meski ada emansipasi tetap saja harus sebagaimana kodrat nya kan
BalasHapus@dasmount blog
BalasHapusYupps, betul. seberapa besar hak menyesuaikan dengan kadar kewajiban yang ditanggung. Jangan banyak menuntut hak tanpa melaksanakan kewajiban. Bukankah begitu?
begini,,
BalasHapuswanita dan pria adalah manusia dengan segala kekurangan dan kelebihannya
ada wanita yang mampu mengerjakan beberapa pekerjaan yang seharusnya di kerjakan laki - laki, silahkan bila itu sdh ada persetujuan dr pihak tertentu (suami, bos perusahaan dsb)
ada pria juga demikian mampu menyelesaikan tugas perempuan, silahkan bila sdh di setujui
nah sesuai dg pendidikan yg ia dpt sdh menjd haknya wanita untk mendptkan yg menjd haknya,,,tapi tetaplah ada instrumen lain yg memang hrs menjd landasannya,,,sesuai dg siapa dia sebenarnya (sebagai ibu, isteri yg membatasinya,,,)
@Ukhty Nur Maya
BalasHapusBiarpun punya kesibukan lain, namun tetap harus ingat tugas pokoknya, yupss... apapun yang dilakukan di luar tanggung jawab pokok, harus ada kesepakatan diantara keduanya. Seperti contoh, banyak wanita di daerah saya yang menjadi TKW, namun mereka tetap diharuskan meminta persetujuan suami dan keluarga tertanda tangan di atas materai. Begitu kiranya agar tercipta keakuran di antara kedua belah pihak.
Lalu bagaimana dengan yang berpendapat bahwa wanita tidak boleh sekolah formal dengan alasan berbaur dengan makhluk yang bukan mahromnya? Hehe...urusan mereka yang meyakini :D
Untuk kita yang woles, masih ada dalil sebagai sandaran untuk menyanggah pernyataan itu. "Pokoknya ada" :v
Wanita sebagai ibu dan pendidik pertama dalam kehidupan anak2nya "wajib menjadi wanita cerdas". :D