Di dalam kitab Uqala al-Majanin (Orang-orang Gila yang Berakal) buah karya Abu al-Qasim Ibnu Habib al- Naisaburi, dikisahkan tentang seorang tokoh bernama Bahlul, yang dikenal sebagai orang gila pada zaman Abbasiyah ketika khalifah Harun al-Rasyid bertakhta. Dia juga dikenal dengan nama Bahlul Al-Majnun, atau yang lebih familiar adalah Abu Nawas. Ya, Abu Nawas yang menurut sebagian ulama, beliau adalah pencipta syi'iran "Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan...." atau sya'ir Al I'tiraf (sebuah pengakuan).
Dia adalah wali Allah yang tersembunyi. Banyak ulama yang memposisikan Si Bahlul (Abu Nawas) sebagai sastrawan Islam nomor satu di dunia mengalahkan Furazdaq, bahkan Jalaluddin al-Rumi.
Ibnu Arabi mengatakan, “aku telah bandingkan syair Abu Nawas dengan yang lain, ternyata tidak aku temukan syair seindah miliknya.”
Lalu bagaimana dengan Si Sudrun yang ikut nimbrung dalam cerita saya? Tidak lain niat saya adalah untuk memberikan kesan dan cita rasa nusantara. Si Sudrun ini entah orang mana, yang jelas dia adalah teman khayalan saya ketika memulai untuk menulis jalan ceritanya.
“Oo...jadi aku ini hanya sebatas teman khayalanmu to, gus?” Si Sudrun dalam pikiran saya menimpali, hehee...
“Tapi jangan ngambeg ya, Drun. Kamu tetap bagian terpenting dalam ceritaku, tanpamu ceritaku terasa kurang sedap. Ibarat rujak cingur tanpa bumbu kacang,” jawabku dengan ekspresi konyol.
“Ya sudah, gus. Kalau begitu cerita saja, kisah Si Bahlul selanjutnya bagaimana. Itu loh, yang jalan ceritanya Si Bahlul nongkrong di kuburan,” bujuk Si Sudrun menagih janji tadi malam.
“Beres, tapi nanti. Aku sarapan dulu, ngopi, ngerokok, baru setelah itu cerita. Oke?”
“Hai, Bahlul. Kapan kau akan waras? Tak bosankah engkau menjadi orang gila, wahai Bahlul?” Sang Raja memanggilnya dari kejauhan.
Sejurus kemudian, Bahlul berdiri dari tempat ia duduk dan dengan cepat melompat menaiki pohon di sampingnya.
“Hai sultan, kapan kau akan sadar? Kita buktikan siapa sebenarnya yang gila diantara kita, kau atau aku?” Teriak Bahlul dengan sekuat tenaga.
Sultan Harun Ar-Rasyid kemudian menunggangi kudanya menuju ke arah Si Bahlul dan berkata, “Sebenarnya siapa yang gila? Aku atau kau yang selalu duduk di kuburan tanpa tujuan yang jelas?”
“Aku yang berakal, kau yang sudah gila,” jawab Bahlul.
“Bagaimana bisa seperti itu?” tanya Sang Sultan yang rupanya belum bisa menerima.
“Karena aku tahu bahwa gedungmu akan segera hancur sedangkan kuburan ini akan tetap kekal. Maka dari itu aku memakmurkan kubur sebelum gedung, sedangkan engkau memakmurkan gedungmu dan menghancurkan kuburmu. Hingga engkau takut dipindahkan dari gedung ke dalam kuburan, padahal engkau tahu bahwa gedung, harta kekayaan, dan jabatan sifatnya sementara. Dan kau juga tahu bahwa kau pasti masuk kuburan juga.
Sekarang siapa yang gila diantara kita, wahai sultan?” timpal Si Bahlul panjang lebar.
Bergetarlah hati Sang Sultan, ia menangis bercucuran airmata hingga membasahi jenggotnya. Lalu ia berkata, “Sungguh demi Allah engkaulah yang benar, wahai Bahlul. Tambahkanlah nasihatmu untukku.”
“Cukuplah Al Qur'an dan Hadits sebagai pedoman hidupmu, Ijma' dan Qiyas para ulama sebagai tambahannya,” jelas Si Bahlul dengan tegas.
“Apakah engkau memiliki permintaan, wahai Bahlul? Aku akan turuti permintaanmu,” tanya sultan menawarkan.
“Benar, aku memiliki tiga permintaan. Jika Baginda mempu memberikan itu padaku, maka aku akan sangat berterimakasih kepadamu,” jawab Bahlul dengan gaya iklan Djarum 76.
“Woy, ngawur gitu ceritanya? Zaman Abbasiyah belum ada iklan rokok keles!” celetuk Si Sudrun memotong ceritaku.
“Terserah gue keles!” jawabku dalam hati.
Sebelum Bahlul mengatakan apa permintaannya, ia menyeruput kopi di sampingnya sambil menyedot sisha (semacam rokok khas Timur Tengah).
“Aahhh....ajib jidan,” gumam Si Bahlul.
“Cepat katakan, wahai Bahlul. Apa permintaanmu?” tanya Sang Sultan.
Bahlul: “Tambahkan umurku.”
Sultan: “Aku tak sanggup.”
Bahlul: “Jagalah aku dari malaikat kematian.”
Sultan: “Aku tak mampu.”
Bahlul: “Masukkan aku ke dalam surga dan hindarkan aku dari siksa neraka.”
Sultan: “Sungguh aku tak mampu melakukan itu semua, wahai Bahlul.”
“Ketahuilah, wahai Sultan. Engkau itu dimiliki (seorang hamba). Bukan pemilik (Tuhan). Aku tidak butuh kepadamu.”
Bergegas Bahlul meninggalkan Sang Sultan sambil melantunkan sebuah sya'ir:
“Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi
Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil ‘azhiimi”
Ila akhirihi....
Wallahu a'lamu bisshowab.
wah sultan belum sadar juga rupanya
BalasHapus:)
@Ukhty Nur Maya
BalasHapusHihihihi :D sebenarnya Sultan Harun dinasti Abbasiyah itu orang pandai, tapi masih kalah mainset-nya sama Si Bahlul yang memang pandai bersiasat dalam debat. :D
bahlul yg panggilannya, cerdas hatinya
BalasHapus@Ilham
BalasHapusLoh? bukankah yang cerdas itu akal, bang? Hihihi :D
wah bagus jg ceritanya, sebuah kisah lama yg dikisahkan ulang dalam gaya baru yg lebih fresh sehingga jadi lebih menarik... namun demikian, pesan dari inti ceritanya itu yg jauh lebih penting...
BalasHapusdari beberapa artikel yg saya baca, rupanya blog agan bertemakan hikmah dan filsafat ya? ini bagus karena blog agan punya ciri khas tertentu
@Max Yudith
BalasHapusAmin, Insyaalloh semoga manfaat, bang. Punya master jg bagus loh. Blognya sangat membantu buat newbe seperti saya yg pengen belajar SEO :)
Baru tahu Bahlul itu Abu Nawas. Jadi Rumi juga kalah ma mas Bahlul ya ?
BalasHapusKisah di atas menunjukkan bahwa perbuatan seseorang yg dianggap bodoh ternyata memiliki makna yang berbeda. Maksud mas Bahlul nongkrong di makam adalah untuk mengingat kematian, ingat asal kita sehingga selalu mawas diri. Begitu kan mas Bahlul ? Kalau salah mohon dimaafkan ya :)
@She Zhie
BalasHapusHai, Sudrun disini. Bahlulnya lagi tahlilan :D
Benar sekali, dalam sejarah memang dijelaskan bahwa Abu Nawas master dari ilmu sastera, namun begitu katanya riwayat hidupnya sebelum menempuh jalan sufi dia adalah orang zindiq, suka minum khomer. Tapi dalam akhir perjalanannya ia taubat dan membakar semua karyanya karena isinya sastera cabul. Tersisalah beberapa karyanya saja, salah satunya yaitu Al I'tiraf yang sering kita baca. Ilahi lastu lil firdausi ahlan.... :)
Dapet pelajaran baru nih
BalasHapusIlmu baru
BalasHapus@Ryan Maharudin @Anggi fernando
BalasHapusMonggo, akang2. Sruputt kopinya :D
Bahlul al majnun kata ini sering denger di lagu ,tapi lagu apa ya ?:s .btw cerita keren karena ada nilai" islam di dalamnya
BalasHapus@zetsful,
BalasHapusYupss semoga cerita2 hikmah ini bisa menambah ketebalan iman kita, amin :)
Keren sobat jika berkenan mamvir keblog ane
BalasHapus@Veer Singh Bundela
BalasHapusSiapppp....
Lanjutkan kreatifitasmu cah. Moga manfaat :)
BalasHapus@Miftah Al-Khoir,
BalasHapusNjeh, pak. Suwun atas doanya :)