Selasa, 26 April 2016

Jangan Menunggu Dilempar Batu, Bersyukurlah!



Di sebuah gedung apartemen mewah 30 tingkat di kota "anu", ada seorang cleaning service sebut saja namanya Sudrun. Perlu diperhatikan, Sudrun yang ini bukan Sudrun yang sekarang jadi teman ngopi saya. Ini Sudrun dari alam lain dalam mimpi saya.
Sebut saja namanya Sudrun Parkirson (ya, dia anaknya tukang parkir di kampus saya). Jenis kelamin laki-laki, umur 23 tahun, makanan favorit rujak cingur, jomblo, facebooker alay.
Cukup lama dia bekerja sebagai cleaning service di lantai 1, sekitar 8 tahun lamanya semenjak lulus SMP. Dia termasuk pegawai cleaning service senior di apartemen itu.
Dalam hati Sudrun sebenarnya sudah merasa bete dengan jabatan itu. Dari dulu kerjanya begitu melulu tak pernah berubah. Selama ini dia hanya karyawan di lantai 1, ia berharap jabatannya naik menjadi cleaning service lantai 2.
“Pokoknya pengen naik jabatan. Harus!”
Sudrun lupa, disaat ia bete dengan pekerjaannya, di luar sana malah banyak orang bete karena belum dapat pekerjaan. Padahal jadi atasan itu tak selalu enak, digantung berjejer di toko-toko dan kios pasar, istana BH. 10 ribu dapat 3, nego, COD di tempat. Heu heuu....
Suatu sore Sudrun sedang terlena dengan pekerjaannya menyapu di lantai 2, “Asyik coy, naik jabatan. Dari lantai 1 naik ke lantai 2.” Bosnya memanggil dengan suara lembut dan sopan dari lantai 8, namun Sudrun tidak mendengar. Sekali lagi bosnya memanggil, kali ini dengan teriakan. Mungkin karena jaraknya yang cukup jauh hingga Sudrun tak juga mendengar, atau pura-pura tak mendengar?
Lalu bosnya melempar uang logam warna kuning 5 ratusan ke hadapannya, Sudrun memungutnya dan memasukkan uang itu ke saku baju tanpa menoleh dan mencari tahu dari mana uang tersebut. Merasa dikacangin, si boss lalu melempar uang 50 ribu warna biru. Mendapatkan uang sebanyak itu Sudrun girang bukan main, memasukkan uangnya ke saku lalu melanjutkan nyapunya tanpa menengok ke atas mencari tahu dari mana uang itu berasal.
Akhirnya sang atasan mengambil batu kecil yang ada dalam pot bunga di sebelahnya, lalu melemparnya tepat mengenai kepala Sudrun. “Pletak!!! Crottt...” begitu kira-kira suaranya. Barulah Sudrun menengok ke atas.
Wes, anggap ae lucu. Ora usah protes!
Cerita tadi memang bukan cerita lucu, itu sekedar ilustrasi. Bukankah kita sering bersikap seperti itu? Bukankah kejadian seperti itu kerap ada di kehidupan kita?
Saat Tuhan memberikan nikmat yang luar biasa, kesehatan, oksigen gratis tanpa harus bayar kredit bulanan, kita lupa kepada-Nya. Seolah tak terpikirkan sedikitpun berucap terimakasih, dalam sujud sholat menyembah kepada-Nya.
Tuhan sering kali menyapa kita dengan lembut, tapi kita terus saja sibuk dengan urusan duniawi. Kita dianugerahi kesehatan, dijatuhi rizki, diberi udara gratis, dan berbagai limpahan rahmat lainnya, tapi kita sering lupa untuk sejenak bersyukur, yang membuat kita semakin jauh dari-Nya. Nah, di saat diberi cobaan, di saat merasa kesakitan, barulah kita ingat dan menengadah ke atas.
“Ya Allah, sungguh berat cobaan darimu. Aku tak sanggup !”
Lah? Kan lebay, setiap hari diberi nikmat, sekali kena musibah kok katanya berat sekali.
“Sungguh, Tuhan sering berkunjung ke rumah kita, hanya saja kita kadang-kadang sedang tak ada di rumah.” (Ashabul Coffee wal Udud).
Sesungguhnya Tuhan itu sangat mencintai kita. Cobaan-cobaan kecil yang terjadi pada kita adalah cara Tuhan agar kita mau sejenak menengadah ke atas dan ingat kepada- Nya. Oleh karena itu, mari semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, supaya kita bisa mendengar betapa lembut panggilan-panggilan-Nya. Mari sesering mungkin mengingat-Nya, sebelum Ia melempar batu kecil kepada kita.
Jangan bandel, segeralah perbaiki diri ketika kita dilempar batu kecil, jangan tunggu sampai dilempar dengan batu yang lebih besar.
Tak bermaksud menggurui ya, soalnya saya juga bukan guru atau ustadz. Cerita ini juga mungkin sudah basi, mambu, prengus bau wedhus. teman-teman mungkin pernah mendengar dengan model penyampaian yang berbeda. Tapi tentu tidak ada salahnya untuk saling mengingatkan, karena manusia adalah tempatnya salah dan lupa.
Yang saya sampaikan ini juga hanya cerita fiksi, bukan cerita nyata berlatar sejarah layaknya Surat Cinta Untuk Kartini dan sebagainya.
Yang saya tulis juga tanpa ada dasar dalil Al Qur'an maupun Hadits, bijaklah dalam menyikapinya. Mau diambil hikmahnya silakan, diabaikan juga aku rapopo.
************
Biar kekinian, setelah nge-blog, upload foto ke instagram:
“Dear mantan, maafkan aku yang dulu.” hastag: #BeforeAfter
Salam Pramuka!!!

12 komentar:

  1. Ukhty Nur MayaRabu, April 27, 2016

    Bacanya sudah serius banget, pesan moralnya juga dapat dan tidak hanya itu lucunya juga ada, saya sempat tersenyum walau tidak mengurangi artinya yang ingin di sampaikan

    BalasHapus
  2. @Ukhty Nur Maya,
    Alhamdulillah, semoga bermanfaat. Amiinn... :)

    BalasHapus
  3. Edii NurhidayatRabu, April 27, 2016

    keren sobat cerita / postingan yang bisa membuat saya ketawa :mrgreen: jika agan berkenan yuk ngumpul bareng di blogku

    BalasHapus
  4. @Edii Nurhidayat,
    kalo ketawa jangan terlalu lepas ya bang :D
    Insyaalloh, ditunggu aja kunjungannya

    BalasHapus
  5. Wah,,, saya kalau baca postingan sobat bisa senyum- senyum sendiri,,, penyampaiannya lucu,,,

    bagus ceritanya, walaupun cerita fiksi namun ada pesan moralnya

    terimakasih sudah mengingatkan
    :D

    BalasHapus
  6. ID Movies Download Film Full MovieRabu, April 27, 2016

    bener gan

    BalasHapus
  7. perumpamaan keren

    sesuai dengan ilustrasi sudrun :)

    BalasHapus
  8. @Zahrotul M, iya dek Zahrotul, sama2. Beberapa hari ndak online sibuk apa? :D

    @ID Movies Download Film Full Movie, apanya yg bagus? :D ya semoga manfaat.

    @Ilham, entah kang. Si Sudrun selalu terngiang dalam angan, rasanya tak tergantikan. Hehee :D

    BalasHapus
  9. mantabbbb
    buat di baca pagi hari
    kunjungan pagi sukses

    BalasHapus
  10. @wahyu,
    Dibaca beneran atau nggak nih? Hehee :)

    BalasHapus
  11. :D
    asyik dan kocak juga isi ceritanya namun tidak kehilangan arah dalam usaha menyampaikan pesan utama...
    ini cara yg bagus untuk memberikan nasehat...

    mantap gan...

    BalasHapus
  12. @Max Yudith,
    Alhamdulillah, semoga pesannya benar2 tersampaikan. Ndak sekedar nyimak lucunya ajah...

    BalasHapus