
Tolong di baca sampai selesai ya, biar para sahabat tidak sembrono dalam beropini. Kisah dalam cerpen ini hanya fiktif sama seperti cerita yang kemarin. Jangan Menunggu Dilempar Batu, Bersyukurlah!
Dan tidak ada maksud jelek sedikitpun, ambil yang baik saja, tinggalkan yang jelek.
Di sebuah pesantren, tinggallah seorang pemuda desa yang lugu nyantri belajar Ilmu Fara`id (ilmu hitung harta waris) kepada seorang Kyai. Menjelang khatam (tammat) dalam masa belajarnya, sang Kyai berpesan kepada pemuda desa tadi,
“Kang, kamu tidak boleh menjadi beban orang lain. Sesungguhnya orang alim yang menengadahkan tangannya kepada orang-orang yang berharta, tidak ada kebaikan sedikit pun pada dirinya. Ia akan di pandang hina oleh masyarakat, terlebih-lebih oleh Allah swt.
Bekerjalah kamu seperti pekerjaan yang dilakukan ayahmu, tapi jangan lupa pesan saya; Bawalah selalu kejujurandan ketakwaan kepada Allah swt. dalam menjalankan pekerjaan tersebut ya, Kang.”
Pemuda desa itu tidak tahu tentang pekerjaan ayahnya, karena ayahnya telah lama meninggal dunia. Setelah tammat masa belajar, ia pun segera pulang ke rumah dan menanyakan hal tersebut kepada sang ibunda tercinta yang masih hidup.
Setelah menemui ibunya, si pemuda bertanya, “Bu, tolong beri tahu kepadaku, apa pekerjaan ayah dahulu sebelum meninggal?”
Seketika sang ibu heran dengan pertanyaan anaknya. Sang ibu pun balik bertanya, “Apa urusanmu? ingin tahu saja pekerjaan ayahmu?”
Ungkapan sang ibu itu menunjukkan bahwa ia merasa enggan menjawab pertanyaan anaknya. Pemuda itu terus-menerus memaksa ibunya agar mengungkapkan pekerjaan ayahnya.
Lama-kelamaan sang ibu tidak tahan menanggapi desakan pertanyaan anaknya. Dengan nada tinggi, sang ibu berkata, “Ketahuilah nak, bahwa ayahmu dulu pekerjaannya adalah seorang copet, pencuri, maling. Udah dengar? Puas kamu?”
Dan ternyata bukan rasa kaget,atau pun kecewa yang dirasakan pemuda itu, malah ia tampak santai dan tenang-tenang saja ketika mengetahui bahwa ayahnya dahulu adalah seorang maling. Malah yang timbul dalam hatinya adalah hasrat yang menggebu-gebu untuk mengikuti jejak ayahnya. Sesuai dengan anjuran yang disampaikan oleh Kyai-nya di pesantren.
Pemuda itu menjelaskan kepada ibunya, “Aku diperintahkan oleh Kyai-ku, Bu, untuk bekerja seperti pekerjaan ayahku, tapi beliau berpesan agar aku selalu membawa kejujuran dan ketakwaan kepada Allah swt. dalam meneruskan pekerjaan ayah.”
Sang Ibu menyela, “Hai, Anakku! Apakah dalam maling itu ada ketakwaan?”
Anaknya menjawab dengan keluguannya, “Ya, begitulah kata Kyai-ku, Bu. Sebagai seorang santri, aku akan taati perintah Kyai. "Sam`an wa tha`atan". Insya Allah berkah hidupnya dan manfaat ilmunya...”
Akhirnya pemuda itu pun belajar bagaimana teory dan tekhniknya menjalani profesi sebagai maling, meneruskan pekerjaan ayahnya.
Setelah ilmu teknik maling yang didalaminya sudah cukup lumayan, pemuda itu memutuskan untuk beraksi dan praktik. Meneruskan pekerjaan ayahnya dan melaksanakan amanah Kyai-nya. Selepas shalat Isya' dan semua orang tertidur lelap, pemuda tadi keluar rumah untuk menjalankan aksi perdananya.
Ia berucap, “Bismillahi tawakkaltu Alallaah.”
Dan pesan Kyai-nya selalu terngiang dalam ingatannya, untuk selalu membawa kejujuran dan ketakwaan saat bekerja.
Rumah yang diincar pertama kali adalah rumah yang terdekat dengan rumahnya, yaitu tetangganya sendiri. Namun, ia ingat bahwa mengganggu tetangga bukanlah pekerjaan orang yang bertakwa.
Ia ingat hadits nabi: "Rasulullah saw. bersabda, “Tidak dapat masuk surga orang yang tetangganya, tidak merasa aman dari gangguannya”.(HR. Muslim)".
Ia pun urungkan niatnya untuk maling tetangganya sendiri. Begitu pula, ketika hendak maling di rumah anak yatim, ia pun berpikir, “Allah memperingatkan kita untuk tidak memakan harta anak yatim.”
Ia ingat firman Allah swt: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”. (QS. An-Nisaa : 10)
Ia pun pergi mencari rumah berikutnya. Sambil berjalan mencari mangsa, ia merenung, “Ternyata tidak mudah untuk menjadi maling yang bertakwa. Bagaimana pun juga mengambil harta orang lain tidak diperbolehkan oleh agama akan tetapi ini amanah Kyai-ku. Aku sebagai santrinya harus melaksanakan perintah Kyai, tidak boleh berputus asa! Maju terus pantang mundur.!!!”
Tidak berapa lama sampailah ia di pinggiran kota. Langkahnya terhenti di sebuah rumah besar nan megah. Konon pemilik rumah itu terkenal memiliki harta berlimpah melebihi kebutuhannya.
Dengan keterbatasan ilmunya, ia berasumsi, “Bahwa "sesuai hukum Islam" sah-sah saja jika mengambil harta sebagai zakat dari kekayaan orang tersebut. Toh, bagian zakat itu bukan hak si empunya kekayaan, tetapi hak orang miskin, sedangkan saya kan termasuk orang miscall, eh sorry, fakir miskin maksudnya.”
Tekad yang bulat mendorongnya untuk masuk ke dalam rumah besar dan sepi dari penjaga tersebut. Satu per satu kamar ia selidiki untuk menemukan tempat penyimpanan harta. Akhirnya, sampailah ia di sebuah kamar besar dan di dapatinya sebuah kotak berisi emas, perak, dan uang tunai. Kemudian Ia kumpulkan juga buku-buku catatan yang berisi laporan keuangan si pedagang kaya tersebut.
Dengan lentera kecil yang dibawanya, ia mulai menghitung zakat yang harus dikeluarkan oleh orang kaya itu. Keahlian pemuda yang didapat dari sang Kyai dalam hal keuangan, pembukuan, dan pembagian harta serta zakat yang harus di keluarkan orang kaya itu, semua ia kerahkan. Dikarenakan begitu banyaknya perhitungan yang harus diselesaikan menjadikan ia lupa waktu.
Fajar sudah menyingsing, pertanda sudah tiba waktu shalat Subuh.
“Allahu Akbar...Allaahu Akbar...” alunan suara pak Saat yang merdu terdengar di semua stasiun televisi.
Sang tuan rumah pun telah bangun dari lelapnya tidur untuk melaksanakan shalat Subuh.
Alangkah terkejutnya orang kaya itu ketika kamar tempat penyimpanan hartanya telah terbuka. Apalagi ia mendapati seseorang tengah asyik dengan buku-buku catatannya di bawah cahaya lentera kecil.
Dengan lantang, si tuan rumah menghardik pemuda tersebut, “Hai, siapa kau!”
Sang pemuda terkejut mendengar teguran tersebut. Saat disadarinya hari sudah hampir terang, ia bergegas untuk melaksanakan shalat.
Sang pemuda berkata kepada si pemilik rumah, “Maaf, tuan, nanti akan saya jelaskan. Tapi, izinkan saya untuk shalat Subuh terlebih dahulu ya."
Akhirnya, mereka berdua pun shalat Subuh berjamaah dengan si tuan rumah sebagai imamnya.
Usai shalat, pemuda itu mengaku kepada tuan rumah, “Tuan, terus terang saya maling.”
Si tuan rumah makin bertambah heran, dan bertanya, “Ya aku tahu kamu maling, lantas apa yang kau lakukan dengan buku-buku catatanku?”
Pemuda itu menjawab sambil menyodorkan hasil perhitungannya, “Aku sedang menghitung zakat yang belum kau keluarkan selama enam tahun. Ini hasilnya.”
Pemuda itupun menasihati si tuan rumah tentang pentingnya zakat juga keutamaan zakat.
“Tuan, Rasulullah saw. bersabda: “Orang yang menahan zakat itu, pada hari kiamat ada di dalam neraka. (HR. Imam Thabrani).
Dan Allah swt. berfirman dalam Al-Qur`an surat At- Taubah:103: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan(dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta) dan mensucikan (menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati) mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”
Tiada kemarahan terlihat di wajah si tuan rumah. Ia malah terkagum-kagum atas kejujuran serta kepandaian dan ketepatan si maling dalam berhitung. Selain itu, ia jadi mengetahui tentang pentingnya mengeluarkan zakat. Akhirnya, si tuan rumah mengangkatnya menjadi sekretaris dan juru hitung pribadinya.
Dan tidak begitu lama seiring berjalannya waktu, si tuan rumah orang yang kaya raya itu pun akhirnya menikahkan sang pemuda desa, si santri maling itu dengan putrinya. Dan Ibu si pemuda yang tinggal sendirian di rumahnya dalam keadaan miskin, akhirnya juga ikut di boyong bersama mereka.
Memasuki masa usia menjelang tua, masyarakat daerah sekitar memashurkan ia dengan nama Kyai Maling Ahli Ilmu Fara`idh.
Berkat kejujuran, ketakwaan, dan taat menjalankan amanah pak Kyai dalam perbuatannya, kebahagiaan akhirnya mendatangi dirinya dan orang lain termasuk ibu tercintanya.
Ingat kisah dalam film Si Entong tidak? Yang selalu mujur meski dalam kesalah pahamannya menafsirkan pesan gurunya, Ustadz Somad? Seperti itulah kira-kira contoh sederhananya.
******
Semoga menjadi Inspirasi bagi para maling-maling, terutama maling yang suka maling uang rakyat, pasti mereka akan menyanggahnya: “Uang yang mana? Rakyat yang mana?”Sudahlah, jangan terlalu memikirkan mereka. Oh ya, Insya Allah besok Jumat atau Sabtu saya pengen update Cerita Si Bahlul, enaknya tema apa ya?
Monggo urun ide, sruput dulu kopinya....aahhhhh!
meski dapat pesan moralnys
BalasHapustapi kok sulit ya mengurai kata di komentar
karena harta yang ada pada kita juga ada hak orang lain yang harus dikeluarkan,, zakat, infak, sedekah
kira - kira begitu
@Ukhty Nur Maya,
BalasHapusBisa juga seperti itu, Ukhty. :)
Banyak celah untuk mengambil hikmah, ^_^
keren kaka artikelnya :D
BalasHapusBanyak sekali hikmah yang dapat kita petik diatas, memang benar2 santri yang baik... Ganti aja judulnya gan trik menjadi maling yang bertakwa :mrgreen:..
BalasHapus@Achyarul Umam, kalo keren silakan di copy paste :v
BalasHapus@Ihsan, wah jangan ada kata trik, ntar yg nyari tutorial hp pada nyesel mampir, ndan wkwkwkw :v
Ntar merasa ter PHP ama judul kan bisa gawat
awalnya saya kira mirip cerita Sunan Kalijaga, tapi ternyata endingnya beda. Kagum saya, santri taat pada perintah guru. Tapi disitu penafsiran sang santri gagal, kenapa harus maling, padahal kalau berfikir jernih bisa mencari yang lebih baik.. ;)
BalasHapus@Arizi97,
BalasHapusnjeh leres. Kenapa harus maling? Karena keluguannya lah, hehee :)
Karena satu ucapan "jadilah seperti ayahmu" saking taatnya kpd guru maka dilaksanakan. tak taunya si ayah adalah maling, namun lagi2; ada rahasia di balik rahasia.
Andaikan setiap maling kaya gitu, aman rumah kita :D
BalasHapusAL HABIB UMAR BIN HAFIDZ : HAKIKAT SUJUD SECARA KESELURUHAN
.
http://remajaislam.yu.tl/al-habib-umar-bin-hafidz-hakikat-sujud-s.xhtml