“Aha! Aku ingat, tadi pas aku beli rokok, aku letakkan di meja lapak si embak-embak yang jaga.”
Sesampainya disana, Bahlul melihat si embak yang tak asing lagi baginya. Yang jaga warung tempat jualan rokok yang ia beli.
“Permisi, mau nanya. Mbak lihat kantong duwit yang tadi aku taruh disini ndak?”tanya Si Bahlul.
“Mboten, mas. Dari tadi juga lapak masih sepi. Ndak ada pembeli selain panjenengan, dari tadi juga ndak lihat barang yang mas maksud, ”jawab si mbak kebingungan (atau memang berlagak bingung).
“Kayaknya mbak ini berbohong, ya sudahlah. Kalau memang mbak ini yang ngambil semoga bermanfaat,”berkata Si Bahlul dalam hatinya.
Bahlul perhatikan wanita itu, perutnya tampak membuncit. Rupanya wanita itu sedang hamil muda. “Ya sudah, mbak. Kalo memang ndak lihat, mungkin tertinggal di tempat lain,”kata Bahlul sambil mencincingkan sarungnya.
Sambil berlalu, Bahlul berdoa dalam hatinya,“Ya Allah, jika memang dia yang ngambil semoga bisa manfaat. Dan semoga dia ndak mengulanginya lagi.”
“Apes rek, hasil jual keledai, ilang. Makan apa keluargaku hari ini? Masa harus minta Tuan Raja, mau taruh mana mukaku ini.”
Dalam lamunannya tiba-tiba gurunya menegur,“Ehem, wahai muridku, mengapa kamu bersedih seperti itu?”
“Anu, Kyai, duwitku hilang di pasar. Diambil lagi sama Allah, mungkin sudah jadi rezeki orang lain,” jawab Si Bahlul.
“Masyaallah, sungguh Allah Maha adil lagi bijaksana. Sepertinya Allah memang ingin kamu benar-benar zuhud, Bahlul,” tegas Sang Guru.
“Saya ikhlas, beribu-ribu ikhlas. Toh hasil panen padi musim kemarin masih ada di lumbung, jadi saya ndak begitu kuwatir,”balas Si Bahlul.
“Ya sudah, aku tak berangkat ceramah dulu di kampung sebelah. Salam buat anak istrimu ya.”
Itulah pelajaran pertama tentang ikhlas semenjak Bahlul memutuskan untuk mengalir mengikuti arus tasawuf yang begitu menarik hatinya.
Bahlul pun pulang dengan perasaan lega dengan keikhlasan hatinya. Toh istrinya tidak pernah cerewet dengan sikapnya yang serba masa bodo dengan masalah gituan.
“Mbak Inem, kopinya satu. Gulanya dikit aja ya, ntar sisanya kasih senyum. Biar manisnya terwakilkan sama semummu heheee,”cerocos Si Sudrun memecah konsentrasiku yang dari tadi bercerita tentang keikhlasan Si Bahlul.
“Ah, mas Sudrun iku gombal wae. Niki kopine, mas, sesuai pesanan. Dah tak kasih senyum toh? Harganya dobel loh,”jawab Si Inem sambil meletakkan segelas kopi di meja.
“Dasar Sudrun, gombal ae. Dengerin ceritaku tadi ndak sih? Kalo ndak mendingan tutup akun blogmu.”
“Hehe, woles, bang, woleess. Tak dengerin, sebagai visitor yang baik sebelum komentar, aku baca-baca sampe selesai lah. Sudrun gitu!”sanggah Sudrun dengan nada nyindir teman sebelahnya yang asyik fesbukan.
“Coba jelaskan, apa pelajaran dari ceritaku tadi?”
“Bentar, bang. Kopi aja baru dibuat, tak sruput dulu sebentar,”jawab Sudrun.
“Ya sudah, aku juga nyalain rokok dulu. Kecut ngerti ora? cangkemku ngomong dari tadi.”tanggapku sambil nyalain korek.
“Bagini, bang. Aku awali dulu dari sebuah hadits,” sambung Sudrun.
“Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan ra., ia berkata: "Rasulullah saw. Bersabda: "Sangat menakjubkan bagi orang mukmin, apalagi segala urusannya sangat baik baginya, dan itu tidak akan terjadi bagi seseorang yang beriman, kecuali apabila mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka yang demikian itu sangat baik, dan apabila ia tertimpa kesusahan ia sabar maka yang demikian sangat baik baginya."(HR. Muslim)
“Dari hadist di atas, aku bahas tentang zuhud ya, bang, dalam zuhud juga ada pelajaran tentang ikhlas soalnya. Zuhud itu melepaskan diri dari kecintaan terhadap dunia, dan mendekatkan diri kepada urusan akhirat. Tapi yang perlu digaris bawahi, zuhud bukan berarti secara total meninggalkan nikmat dunia. Seperti hadits yang tadi, bersyukur ketika mendapatkkan nikmat, dan bersikap ikhlas ketika nikmat itu dicabut. Seperti itulah sikap yang Mister Bahlul ambil, josss lah Mister Bahlul, ”kata Sudrun menjelaskan.
“Oh iya ya, Drun. Banyak orang salah paham, ingin zuhud tapi nyepi di dalam gua. Ndak mau srawung sama tetangga, ndak kerja, tiap hari wiridaaaaaan melulu. Ehh keluarganya ndak dinafkahi. Katanya mereka dunia ini hanya tipu daya, wes kuwi tok dalile,”komentarku terhadap pendapat Sudrun.
“Nah makanya, bang. Selain zikir dan ngaji, ngopi juga perlu. Biar ndak setres ngeladenin orang-orang iseng di negara ini. Ngaku Islam kok lambene ora nduwe tatakrama, Kafeeeerrr....laknaatt....antek yahudi.... Ndiasmu benjut, pak!”terang Si Sudrun menirukan "seseorang" yang sering muncul di berita tv.
“Drun, sekarang ngerti apa artinya ikhlas kan? Bisa minta tolong ndak? Tapi yang ikhlas,”kataku dengan nada merayu.
“Bereeess, minta tolong apa? Woles ae kayak sama siapa aja,”jawab Sudrun.
“Tolong bayarin kopiku, kelupaan ndak bawa dompet. Hehehe...”nyengir mesem ngguyu-nya aku.
“Jiangkreeekkk....!!!! Ngomong ae minta ditraktir.”
Wuahaha..pinter banget bawa2 ikhlas spy bisa ditraktir, jangan mau ndrun, suruh admin bayar sendiri :D benar sekali makna zuhud banyak disalahartikan, karena ga bs berkarya ataw malas bergerak, mereka yang melakukannya ingin membela diri dengan mengatakan sedang mempraktekkan sikap zuhud. Zuhud sendiri sangat berkaitan erat dengan sufi, itulah yang pernah kubaca :) mengenai ikhlas, sama sperti halnya sabar, ikhlas bagiku mudah diucapkan tapi sulit dilaksanakan. Hujan mengeluh, panaspun mengeluh, mulut ini selalu mengeluh. Padahal jika kita berhenti mngeluh maka kita akan sampai disurga, :) Wallahu A'lam Bishawab
BalasHapus@She Zhie,
BalasHapusadmin cerita gini jg ngarepnya si sudrun sadar sendiri kalo admin pengen ditraktir, eh ngga peka wkwkwkw
Sabar itu sulit, Sabar itu rumit, Sabar itu berat, Sabar itu ndak karuan,
Namun, dengan bersabar hidup akan menjadi lebih indah
‘‘Terus... Kapan indahnya???
’’ Ya sabar aja,
Begitulah kalimat terakhir dari artikel admin tertanggal 1 April 2016, berjudul "Sabar Itu Tak Ada Batasnya" hihihihih....
Hahahaha, bagus a' ceritanya :D
BalasHapusIzin copas ea moga manfaat buat temen2 aq. ^_^
Maap, non user.
@Nazrah,
BalasHapusguayamu ndok, basa basi. :D
Dasar konco fesbuk :v
mancing mania...mantab om...
BalasHapus★★★
ceritanya bagus mengandung unsur pembelajaran. . . Semoga sukses. . . D tunggu kunbalnya. . .
BalasHapus@BoengZuu yng ManDIERY,
BalasHapusiya, bro. Makasih. Ditunggu ya
@khubaib boyolali 2016
Suwun, kang :)
Hahaha,,, akhir-akhirnya minta ditraktir kopi.
BalasHapusDari cerita diatas kita diajarkan untuk ikhlas dalam setiap kondisi apapun, termasuk ketika kehilangan barang berharga yang kita miliki.
Mungkin saja itu bukan bagian kita. Ada yang lebih membutuhkan.
@Zahrotul M,
BalasHapusBener banget, kita hrs pandai bersyukur.
Tanggapan kalian semua, kalo kata mbah Sujiwo Tejo: SIP! IQ BERBINTANG :D
ceramah manis diwarung kopi ujung2nya minta ditraktir hiihiikkk!! :mrgreen: dan bicara soal ZUHUD artinya meninggalkan sesuatu dan tidak menyukainya. sedangkan secara istilah adalah menghindari, meninggalkan, dan menjauhi keduniaan karena iman dan lebih mengharapkan dan mencintai kehidupan akhirat. Sedangkan orang yang memiliki sikap zuhud dinamakan zahid..... Sikap zuhud ini timbul sebagai cerminan dari iman yang sangat kuat untuk berlatih
BalasHapusmembersihkan diri supaya tidak terjebak pada
urusan urusan dunia yang sifatnya membelenggu. Dia lebih mementingkan dan lebih menyukai pada kehidupan akhirat, dengan suatu keyakinan bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal sifatnya...dan orang yang bersifat ZUHUD terdiri dari 1.Hidup sederhana,2. Tidak menumpuk numpuk harta. ,3.Khusyuk dalam beribadah,4. tidak melakukan hidup berfoya foya dan
bermegah megah.,5.Sangat berhati hati dalam memperoleh atau mencari nafkah. 6. Menjauhi sesuatu yang dianggap syubhat apalagi haram.
7.Senantiasa mengedepankan kepentingan
akhirat.dll.. yaa!! seperti itulah kurang lebihnya... :D
@Satria Tujuh Salju,
BalasHapusMasyaallah, sungguh ora salah aku follow panjenengan sungguh bermanfaat buat proses belajarku, tadz. Insyaallah barokah fiddunya wal akhiroh, amin :)
Matur suwun njeh masukannya... Ajiiibbb!!!
ceritanya sangat luar biasa ..selain asyik tapi banyak manfaatnya juga
BalasHapus@novan surya,
BalasHapusamin amin, semoga manfaat :)