Senin, 20 Juni 2016

Ahlu Kerah Berjamaah


Kerah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sedikitnya dipakai dalam dua definisi yang berbeda. Pertama, didefinisikan sebagai rodi. Sebagai kata dasar, kerah dalam definisi ini sebenarnya hampir tidak pernah terdengar dipakai oleh bahasa Indonesia; yang acap dipakai justru kata bentukannya seperti ‘mengerahkan’, ‘dikerahkan’ dan sebagainya. Definisi kerah yang lain adalah leher baju, dan dalam bahasa Indonesia kata ini sering dipakai dalam bentuk kata dasarnya.

“Lantas maksud ahlu kerah itu apa?” tanya Kang Jupri, seorang santri senior, “apakah tukang mengerahkan? Sehingga ahlu kerah berjamaah artinya golongan yang suka menyuruh orang untuk kerja rodi beramai-ramai gitu? Kalau ya, itu kan kerjaan partai politik. Atau ahlu kerah berjamaah itu artinya golongan yang suka kerja rodi bareng-bareng? Lha, kalau yang ini kan artinya golongan paling bahlul dalam sejarah.”

Belum sempat saya menanggapi, santri lain sudah nyelonong berkomentar “Atau kerah disitu memang dipakai dalam arti leher baju? Kan ada istilah ‘kejahatan kerah putih’; jadi kalau ahlu kerah berjamaah artinya tukang korupsi berjamaah. Benar begitu?”

Sebenarnya ada definisi kerah yang ketiga, yaitu kerah yang dipakai dalam bahasa Jawa, yang artinya meleset jauh dari definisi-definisi yang dipakai bahasa Indonesia. Kerah adalah istilah Jawa untuk menyebut pertengkaran. Asu gedhe menang kerahe, misalnya, adalah ungkapan bahwa yang berkuasa selalu menang dalam pertengkaran.

Dalam bahasa Jawa, kata kerah memang paling sering dipakai untuk menyebut pertengkaran kucing atau anjing. Kita tahu, perkelahian antar atau inter anjing dan kucing kecuali ditandai dengan saling mencakar dan menggigit, juga selalu disertai suara lengkingan yang tinggi.

Nah, sekarang bayangkan: mendengar lengkingan kucing atau anjing kerah saja sudah cukup bikin sakit telinga; apalagi bila harus mendengar kerah menyangkut politik atau malah agama yang dilakukan secara beramai-ramai, dan kebisingan teriakan ancam-mengancamnya tiap saat muncul di beragam media; pasti mabuklah kita dibuatnya. Ibarat orang bertengkar pakai pengeras suara, seisi kampung jadi ikut-ikutan tegang dan tak bisa tidur karenanya. Bukan cuma terganggu, tapi bikin kepala pusing tujuh keliling.

Jadi, begitu secara ngawur saya mencoba menjelaskan: baik diartikan partai politik, korupsi berjamaah maupun pertengkaran politik atau antar-inter agama, yang jelas ketiganya akan selalu bikin susah orang saja; apalagi di negeri yang sudah bak belantara ini.

“Sekarang ini sepertinya orang sedang ramai-ramai kesurupan Bush-isme” celetuk kang Sudrun.

Warung pondok tiba-tiba senyap. Santri-santri yang kumpul saling pandang mendengar celetukan tersebut. Kang Sudrun adalah salah satu santri senior yang selama ini dikenal pendiam, tapi ya itu tadi, begitu omong sering membikin santri lainnya terkejut karena lompatan nalarnya yang tak terduga.

“Maksud sampeyan Bush-isme itu apa tho Kang? Mbok kalau omong yang jelas dan langsung to the point gitu lho…” protes Giman, santri lugu dari gunung menanggapi celetukkan kang Sudrun.

“Kalian ini memang bangsa pelupa kok. Coba ingat-ingat: dulu untuk memerangi apa yang secara sepihak mereka definisikan sebagai teroris, George W. Bush melempar ancaman ke semua pihak dengan ungkapan terkenalnya ‘bersama kami, atau melawan kami’, with us or against us. Dengan ungkapannya ini, Bush sedang memproklamirkan bahwa hanya ada satu kebenaran, yaitu kebenaran menurut versinya; dan siapapun menolak kebenaran tersebut langsung diposisikan sebagai lawan yang harus diperangi. Itu kan bentuk fasisme paling mengerikan, yang anehnya diamini oleh peradaban yang katanya modern ini!” jelas kang Sudrun.

“Nah sekarang coba amati: tanpa perlu membuat proklamasi seperti Bush, kelakuan kita sudah persis sama. Begitu ada orang atau kelompok yang dianggap tidak ‘bersama kami’, lantas ramai-ramai dibully, difitnah, dibunuh karakternya. Tak percaya? Lihat saja media sosial khususnya twitter dan facebook akhir-akhir ini; bahkan bukan cuma media sosial, tapi juga yang formal! Seperti Bush, orang-orang sekarang juga membuat garis batas imajiner, cuma istilahnya saja yang diganti; bukan lagi with us or against us tapi lovers and haters. Yang tak sepaham dibilang haters, yang sepaham adalah lovers. Luar biasanya, kerah ini bukan hanya diantara elite, tapi sudah ditularkan ke tingkat massa. Ini salah satu indikasi bahwa diam-diam kita sedang membangun peradaban fasis! Akal sehat mati, yang ada tinggal kuasa atas nama massa,” Kang Sudrun mengatakan ini semua bukan dengan berapi-api, tapi dengan nada getir.

“Jangan lupa, ini memang bukan orde demokrasi, tapi orde demokerahsi; jadi yang namanya rakyat kecil seperti kita ini janganlah berharap banyak soal perbaikan nasib. Mendengar kucing kerah saja telinga sudah sakit, sekarang kita malah dipaksa mendengar teror kerah yang berlipat-lipat tingkat kebisingannya! Jadi, dari pada bermimpi tentang perbaikan nasib, mending kita mulai mencari tutup telinga yang tebal sajalah!”

Suasana warung tiba-tiba hening. Dada kami serasa sedang diiris-iris sembilu. Duh, perih banget, beb.

“Ini gelas kok isinya teh sih? Kopi, mana kopi?”

11 komentar:

  1. Ukhty Nur MayaSelasa, Juni 21, 2016

    kang sudrun sedang kampanye juga ternyata
    dengan berapi - api menjelaskan ahlu kerah

    hehe

    kalau pesannya teh ya jelas dapatnya teh
    lah kalau pesan kopi kok di kasih teh

    haha

    BalasHapus
  2. @Ukhty Nur Maya,
    heheheee sudrun emang gt orangnya :D
    Itu mbak2 yg jaga warung paling grogi, jd salah bikin. Ckckckc >.<

    BalasHapus
  3. Fotonya keren kang, ane suka gaya lesehan kaya gitu. Obrolan jadi cair dan mengalir.

    BalasHapus
  4. he..he.. :)
    terkadang para manusia berkerah itu di perlukan juga, agar dunia ini terlihat ramai.
    apalah arti semua ini karena semuanya adalah panggung sandiwara. baik dan buruk itu hanyalah sebuah persepsi, dan keduanya saling melengkapi karena keduanya tepat berada dalam garis edar Sang Ilahi Rabbi.

    BalasHapus
  5. @ARea,
    Asik kang, hehee...

    @indra hidayat,
    Iya jg sih kang, tanpa mereka aku gak ada bahan buat ngisi blog, hihihi....tanpa mereka jg, twitter pastinya sepi dan gak yo-i :D

    BalasHapus
  6. Solihin always foreverRabu, Juni 22, 2016

    Jgn kn lengkingam kcing m anjing , lengkingan kucing m tikus jah bikin gusar bukan main

    BalasHapus
  7. Kerah itu bukannya temennya monyet ? :D

    si sudrun pinter juga ternyata
    hehe,,,

    BalasHapus
  8. Assalamu'alaikum mas, maaf telat datang :D


    Negara kita yang sudah seperti hutan belantara telah menciptakan banyak kerah dalam tiap lapisan dan dalam berbagai aspek kehidupan bernegara. Harus segera mencari penutup telinga yang tebal agar tak merasa bising lebih berbahaya lagi jika kebisingan itu menular dan menjangkiti kita lalu ikut2an menciptakan kerah baru. :D

    ah kang Sudrun memang pintar. Percakapan atau dialog antar santri selalu berbobot, berisi kritikan halus namun sayangnya sering menggunakan kata kiasan yang akhirnya susah dipahami banyak orang dan pada akhirnya salah tafsir.

    Btw sampean santri Gontor atau Tebu ireng ? :D

    BalasHapus
  9. @She Zhie,
    Waalaikumsalam, wr wb.
    Mbk zi, ahhhh santri Semarang aja, tp potonya itu lokasi pas di Almunawwir Jogja. Biasaaa, tilik sedulur hehee...

    Untuk semuanya maaf baru bales, soalnya jadwal padet, gak sempet nengok blok. Heheheeee
    MET BERBURU LAELATUL QODAR, SEMUANYAAAAH.... :D
    BERKAH BERKAH....

    BalasHapus
  10. @Zahrotul M,
    Heheee itu Kera, mb Za. :)

    BalasHapus
  11. @Solihin always forever,
    Lebih gusar lagi kalo lg solat tiba2 ada kucing mengeong tepat dimeja makan...heheee

    BalasHapus