INSHOMNIYAH MEDIA CENTER| “Kesabaranku rasanya sudah habis, bang…”. Aku selalu tersenyum kalau mendengar pernyataan ini. Biasanya dia sudah mendapat tekanan bertubi2 dengan masalah terus menerus, sehingga dirinya merasa lelah.
Yang menarik dari kesabaran adalah ia tidak punya wujud, tetapi selalu ditanamkan di diri manusia. Banyak dari kita merasa, ketika kita sudah mencoba untuk sabar menghadapi situasi, kita juga berharap semua ada ujungnya. Dan ciri khas manusia yang tidak sabar, adalah dia selalu ingin masalahnya cepat selesai.
Dan ketika ia menyadari bahwa perjalanan sabarnya ternyata masih belum terlihat ujungnya, maka terduduk-lah ia di pinggir jalan, kelelahan, haus dan lapar dan akhirnya menyerah. Sabarnya habis.
Bagaimana manusia bisa menghitung kesabaran dalam mencari nikmat Tuhan, ketika Tuhan sendiri tidak pernah menghitung kesabaran-Nya dalam menghadapi perilaku kita ?
“Tuhan itu sebenarnya pembantu..” Kata temanku dulu. Ekstrim sekali. Aku sampai terhenyak mendengar kata2nya.
“Ya, Tuhan itu pembantu.. Yang selalu kita suruh2 untuk menyelesaikan masalah yg kita buat sendiri, keinginan yang kita ciptakan sendiri, mimpi yg kita bangun sendiri. Dan lucunya, kita yang memulai, kita juga yang marah ketika semua itu dirasa tidak tercapai. Kita merasa Tuhan tidak mendengar “perintah” kita.
Perintah, bukan permintaan. Karena orang meminta, seharusnya sadar bahwa permintaan itu ada yang dikabulkan dan ada yang tidak. Sedangkan perintah, tidak boleh tidak terkabul…” Dia tertawa ngakak sampai kopinya tumpah.
“Jadi, yang dimaksud ‘sabar yang habis’ itu sebenarnya hanyalah bentuk amarah ?”
“Ya iyalah.. ” Dia masih ngakak. ” Kita ini kayak punya inem. Ineemmmm… Duh, habis sabar nyonya ini, kamu dipanggil2 supaya ambilkan kue itu, nyonya lapar, tapi kok gak dengar. Budeg ya ? Ineeemmm..” Dia makin tergelak. Dan mau tidak mau aku tersenyum.
“Manusia yang punya kemauan, Tuhan pulak yang kerepotan…” Kami-pun sama2 ketawa juga akhirnya.
Ah, bagaimana kabarnya dia sekarang ? Lama kami tidak ketemu. Mendadak aku kangen padanya. Dan tiba2 sebuah pertanyaan mampir, “Dimana batas sabar, bang ?”
Pasti sahabatku ngakak lagi mendengar pertanyaan ini. Tapi aku tidak. Aku paham situasi bagaimana ketika kita masih buta terhadap petunjuk. Tidak mengenalinya apalagi memahaminya.
Senangnya menyeruput kopi malam ini dan semoga sahabatku sedang menyeruput kopi juga.
“Batas sabar itu adalah ketika ia sudah melebur menjadi syukur..” Jawabku.
“Ketika semua langkah kita syukuri, kita nikmati prosesnya, maka itulah sebenarnya transformasi sabar. Sesuatu yang awalnya pahit berubah wujud menjadi kenikmatan. Semua tarikan nafas, semua hembusan, semua langkah, semua rasa menjadi orkestra syukur.
Kita beradaptasi dengan kesuitan, berdansa dengan keadaan dan menyatu dengan alam. Sampai kita akhirnya berkata, engkau benar Ya Tuhan.. Sesungguhnya kami selalu berdusta terhadap semua nikmat yg Kau berikan..”
Leganya sudah menjawab semua itu. Dan kulihat dalam bayanganku, sahabatku mengangguk, tersenyum dan mengangkat cangkir kopinya. “Kamu sudah belajar, ” katanya lirih. “Aku harus pergi lagi sekarang. Kutunggu kau di perjalanan kedua ini..”
Aku merasa melihat dia mengangkat ranselnya dan menjauh pergi. Ah, aku lupa ia sudah lama tidak ada lagi di sini. Semoga ia baik2 saja di sana, dalam perjalanannya. “Aku akan bersabar hingga sabar takluk oleh kesabaranku…” Imam Ali as.
Dan ketika ia menyadari bahwa perjalanan sabarnya ternyata masih belum terlihat ujungnya, maka terduduk-lah ia di pinggir jalan, kelelahan, haus dan lapar dan akhirnya menyerah. Sabarnya habis.
Bagaimana manusia bisa menghitung kesabaran dalam mencari nikmat Tuhan, ketika Tuhan sendiri tidak pernah menghitung kesabaran-Nya dalam menghadapi perilaku kita ?
“Tuhan itu sebenarnya pembantu..” Kata temanku dulu. Ekstrim sekali. Aku sampai terhenyak mendengar kata2nya.
“Ya, Tuhan itu pembantu.. Yang selalu kita suruh2 untuk menyelesaikan masalah yg kita buat sendiri, keinginan yang kita ciptakan sendiri, mimpi yg kita bangun sendiri. Dan lucunya, kita yang memulai, kita juga yang marah ketika semua itu dirasa tidak tercapai. Kita merasa Tuhan tidak mendengar “perintah” kita.
Perintah, bukan permintaan. Karena orang meminta, seharusnya sadar bahwa permintaan itu ada yang dikabulkan dan ada yang tidak. Sedangkan perintah, tidak boleh tidak terkabul…” Dia tertawa ngakak sampai kopinya tumpah.
“Jadi, yang dimaksud ‘sabar yang habis’ itu sebenarnya hanyalah bentuk amarah ?”
“Ya iyalah.. ” Dia masih ngakak. ” Kita ini kayak punya inem. Ineemmmm… Duh, habis sabar nyonya ini, kamu dipanggil2 supaya ambilkan kue itu, nyonya lapar, tapi kok gak dengar. Budeg ya ? Ineeemmm..” Dia makin tergelak. Dan mau tidak mau aku tersenyum.
“Manusia yang punya kemauan, Tuhan pulak yang kerepotan…” Kami-pun sama2 ketawa juga akhirnya.
Ah, bagaimana kabarnya dia sekarang ? Lama kami tidak ketemu. Mendadak aku kangen padanya. Dan tiba2 sebuah pertanyaan mampir, “Dimana batas sabar, bang ?”
Pasti sahabatku ngakak lagi mendengar pertanyaan ini. Tapi aku tidak. Aku paham situasi bagaimana ketika kita masih buta terhadap petunjuk. Tidak mengenalinya apalagi memahaminya.
Senangnya menyeruput kopi malam ini dan semoga sahabatku sedang menyeruput kopi juga.
“Batas sabar itu adalah ketika ia sudah melebur menjadi syukur..” Jawabku.
“Ketika semua langkah kita syukuri, kita nikmati prosesnya, maka itulah sebenarnya transformasi sabar. Sesuatu yang awalnya pahit berubah wujud menjadi kenikmatan. Semua tarikan nafas, semua hembusan, semua langkah, semua rasa menjadi orkestra syukur.
Kita beradaptasi dengan kesuitan, berdansa dengan keadaan dan menyatu dengan alam. Sampai kita akhirnya berkata, engkau benar Ya Tuhan.. Sesungguhnya kami selalu berdusta terhadap semua nikmat yg Kau berikan..”
Leganya sudah menjawab semua itu. Dan kulihat dalam bayanganku, sahabatku mengangguk, tersenyum dan mengangkat cangkir kopinya. “Kamu sudah belajar, ” katanya lirih. “Aku harus pergi lagi sekarang. Kutunggu kau di perjalanan kedua ini..”
Aku merasa melihat dia mengangkat ranselnya dan menjauh pergi. Ah, aku lupa ia sudah lama tidak ada lagi di sini. Semoga ia baik2 saja di sana, dalam perjalanannya. “Aku akan bersabar hingga sabar takluk oleh kesabaranku…” Imam Ali as.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar