Jumat, 08 April 2016

TUNDUK BUKAN BERARTI MENYEMBAH

522px-habib-umar-bin-hafi.jpg

Diceritakan bahwa pada suatu ketika ada seorang lelaki berjumpa Al Habib Umar bin Hafidz.

Dia bertanya kepada Habib Umar , "Mengapakah kamu membenarkan anak muridmu menundukkan badan mencium tanganmu. Kamu telah melakukan perbuatan syirik kepada Allah. Sepatutnya yang kita kena sembah adalah Allah, bukan mahkluk. Ini kamu mengajarkan anak muridmu perbuatan syirik. "

Habib Umar mendengar dan membalas dengan senyuman kepada lelaki itu. Selepas itu beliau mengambil pena yang berada di kantung baju lelaki tersebut lalu menjatuhkannya ke lantai. Orang itu pun lalu menunduk ingin mengambil penanya, namun Habib Umar menahannnya.

Al Habib Umar berkata, "Apa yang akan engkau lakukan, jangan menunduk ke bawah?''

Orang itu berkata, "Tidak, aku ingin mengambil penaku."

Lalu Habib Umar berkata, "Engkau tidak boleh menunduk ke bawah menyembah pena, yang kita sembah adalah Allah."

Orang itu berkata, "Tidak, aku bukan menyembah pena, aku berniat mengambil penaku bukan untuk menyembah.''

Habib Umar tersenyum, lalu berkata, "Begitu pula santri-santriku. Mereka bersalaman dengan menundukkan badan bukan karena ingin menyembahku, namun mereka cuma ingin menghormatiku sebagai guru mereka, meskipun aku tidak menginginkan/meminta mereka seperti itu.''

Red. Buletin Online FK-Pontren

Pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah diatas adalah jangan gampang menuduh orang lain itu syirik, kafir, murtad, tukang bid'ah, dan lain sebagainya. Karena apa? Guru saya pernah bilang; jika kita menuduh orang dengan sebutan si kafir, ketika tuduhan itu salah maka akan berbalik kepada kita sendiri.

Dan juga kita ketahui, Indonesia ini sedang dilanda bencana krisis moral, radikalisme, ada juga orang-orang yang ingin meruntuhkan pancasila. Mereka bilang pancasila adalah thoghut, hormat bendera adalah syirik, undang-undang adalah hukum kafir, dan tuduhan lainnya.

Padahal tunduk bukan berarti menyembah, hormat bendera adalah isyarat bahwa kita menghargai jasa-jasa pahlawan kemerdekaan negara ini. Pancasila adalah tatanan hidup bernegara, karena penghuni bumi pertiwi ini bukan hanya Islam, namun ada saudara kita yang non Islam. Andai pancasila diganti rukun Islam, apakah mereka tidak akan cemburu? Dalam lingkungan keluarga saja pasti ada kecemburuan kok, nah ini negara, pasti dampaknya lebih besar.

Kok jadi nyerempet ke masalah negara sih? Sok bela negara banget, bela rumah tangga saja ndak becus. Heu heu :3

Allahu a'lamubisshowab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar