Sabtu, 14 Mei 2016

Wasiat Kaos Kaki Bolong


Hati ini miris, ketika menyaksikan berita di tv begitu banyak kasus kekerasan dan pencabulan. Kasihan? Jelas kasihan. Pengen coba? Ora butuh!
Bertambah lagi kegelisahanku saat ayah Si Sudrun wafat dengan meninggalkan wasiat aneh bin aneh kepada Sudrun. Entah apa yang almarhum pikirkan, aku pun tak begitu kepo dengan urusan orang. Yang aku tahu, ayah Si Sudrun ini adalah seorang imam masjid yang bijaksana dalam segala urusan.
“Gus, bapak ini mau wafat saja masih sempat ndagel (becanda). Ngasih wasiat kok yang aneh-aneh,” kata Sudrun.
“Aneh-aneh gitu juga wasiat, Drun. Kasihan juga kalau ndak dituntaskan. Bapakmu berwasiat apa sama kamu?” tanyaku.
Tanpa banyak kata dan bertele-tele, Sudrun menyodorkan sebuah kertas kepadaku untuk dibaca isinya. Yang ternyata itu adalah wasiat terakhir dari bapaknya.
“Nak, tolong nanti jika bapak meninggal kalian pakaikan kaos kaki bolong ini di kaki bapak pada saat dimakamkan. Kaos kaki ini adalah kaos kaki yang paling bapak sayangi, karena selalu setia menemani perjalanan bapak pada saat hidup di dunia hingga kita bisa makmur seperti sekarang ini.”
Begitulah isi dari surat wasiat almarhum. Tak lama setelah Sudrun bermusyawarah denganku, kami pun menyampaikan wasiat itu kepada kyai-kyai yang lain. Yang ternyata pendapat mereka sama, tidak boleh ada sehelai benang pun yang ikut bersama jenazah selain kain kafan.
Sudrun yang cerdas ini rupanya sedang dilanda kegundahan untuk saat ini, mendebat keterangan dari para kyai soal wasiat bapaknya. Antara berkeinginan menuntaskan wasiat bapaknya atau pasrah dengan keputusan yang ada. Rupanya perdebatan itu sama sekali tidak menghasilkan jalan tengah yang diinginkan.
Hingga tengah hari yang begitu terik mengucap salam, datanglah tamu dari Baghdad yang ternyata ialah Bahlul Al Majnun. Entah sejak kapan almarhum bersahabat dengan beliau. Hanya saja secara spontan aku menulis keterhubungan mereka yang secara tiba-tiba terkuak dalam kisah hari ini. Tapi, ah sudahlah.
“Maksud kedatanganku kemari ingin menyampaikan pesan almarhum satu bulan yang lalu, waktu kami bertemu di Baitullah saat sama-sama melaksanakan umroh,” kata beliau menjelaskan (dalam bahasa arab).
Sepertinya ini adalah wasiat sang bapak yang sebenarnya ingin disampaikan, dengan tulisan khas Timur Tengah yang indah. Tinta hitam diatas selembar kertas lusuh bekas bungkus makanan jatah dari panitia penyelenggara umroh.
“Nak, kalian pasti sedang bingung karena tidak dapat memenuhi permintaan bapak untuk memakaikan kaos kaki bolong di jenazah bapak. Sebenarnya permintaan bapak ini hanya ingin mengingatkan kalian semua, bahwa jika kita meninggal kaos kaki bolong sekali pun tidak dapat ikut ke dalam liang kubur. Jadi, janganlah kalian sibuk dengan dunia, kemudian lupa dengan apa yang akan kalian hadapi nanti, yaitu kematian. Karena kematian pasti datang ketika kalian siap atau pun tidak. Maka bersiaplah selalu menyambutnya.”
Baru kali ini Sudrun yang biasanya cerdas dan pandai menyimpulkan suatu masalah, tak mampu menyimpulkan maksud dari wasiat sang bapak. Ia menangis penuh haru, namun diam-diam juga menahan malu karena menangis di depan mataku.
“Sudah, mbok jangan malu-maluin. Kasihan bapakmu, melihat anaknya yang cerdas kok tiba-tiba jadi goblok?” kataku nyinyir.
Tag: CERITA SI BAHLUL Ashabul Coffee @gusrider_ID

7 komentar:

  1. Ukhty Nur MayaSabtu, Mei 14, 2016

    yah
    jangankan barang mewah
    kaos kaki bolong kesayangan pun tak di bawa

    selain amal dan dosa

    adtaghfirullah al azhiim

    sibuk mencari untuk kebutuhan dunia
    jgn lupa bekal kelak fi kehidupan kekal

    BalasHapus
  2. @Ukhty Nur Maya,
    Iya thy, saling mengingatkan aja. Kalo kata Albert Einstain, “Bebasan urip mung mampir ngombe.” :'D

    BalasHapus
  3. Pertama2 ingin kuucapkan "Selamat datang kembali" :?
    kedua ingin kusampaikan "Terima Kasih" kemaren sudah bertamu :?
    ketiga ingin kuungkapkan "Mohon maaf" baru bisa main kesini lagi. :?

    Kematian, menyontek dari puisi terakhirku. Jika tubuh ini masih mampu menerima kabar kematian, sesungguh Tuhan sayang pada kita agar kita mawas diri. Sekarang main kesini kembali kuteringat bahwa kematian pasti akan kita jelang. Semakin sering ingat kematian semakin baik untuku yang suka ceroboh dalam banyak hal. Terima kasih mas, sudah mengingatkanku

    BalasHapus
  4. @She Zhie,
    Pertama ku ucapkan selamat datang, kedua aku ucapkan: puisinya bagus, ketiga sama2 ;)

    BalasHapus
  5. sebuah pesan tersirat dari cerita diatas :)

    BalasHapus
  6. @Ilham,
    Pesannya apa, ndan? Hehee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksud nya ketika orang yg meninggal,kaos kaki yg bolong dan tak berharga pun TDK boleh di bawa keliang lahat...

      Hapus